Feb 11 2008

Profile Image of Hary Lasmana
Hary Lasmana

Agama-agama Baru

Posted at 9:33 am under WORLD IN MY EYES

Riuh rendah polemik mengenai kehadiran agama baru dan konsep ke-Tuhan-an yang terus berkembang, belakangan ini saya senang sekali memperhatikan beragam kegiatan yang menjadi bagian hidup masyarakat. Ketika masyarakat tersinggung dan marah bahkan kerap bersikap anarkis langsung pada si pelaku yang dianggap melakukan penyimpangan konsep ke-Tuhan-an karena atribut agama yang dikembangkan melebar dan tidak sesuai kaidah umum, banyak masyarakat bahkan para pemuka agama rupanya tidak menyadari bahwa “agama-agama baru” dengan wujud lain dan tanpa nama bermunculan merasuk ke hati dan perilaku keseharian masyarakat. Dan dari pengamatan keseharian itu, setidaknya ada (baru) tiga hal pokok yang bisa saya rangkum dari pengamatan tersebut, yaitu:

Games Elektronik

Kehadiran permainan elektronik semacam playstation, Wii (Nitendo), X-Box, atau computer games yang dapat dimainkan oleh siapapun dan dari segala usia siapa disangka kini telah menjadi sebuah trend dan gaya hidup tersendiri bagi penikmatnya. Baik anak-anak, remaja, maupun orang tua penggila permainan ini seringkali hanyut dalam permainan dan lupa akan segalanya. Lupa makan, ibadah, bahkan lupa kewajiban utama lainnya. Bahkan pernah terjadi seorang anak sekolah dasar di laporkan hilang oleh keluarganya karena beberapa hari tidak pulang ternyata ditemukan sedang berada di sebuah rental komputer (baca: warnet) tempat langganan anak-anak seusianya bermain games online. Dahsyat bukan?

Televisi

Banyak orang tidak menyadari efek negatif televisi. Terbuangnya waktu sia-sia saat menikmati tayangan yang memikat dan tanpa terasa menjadi candu bagi pelanggan setia hiburan elektronik ini. Coba tanya ibu-ibu di rumah saat mereka tak ada kegiatan? jika diperhatikan, televisi adalah pembuang kejenuhan utama bagi mereka. Sejak sore hingga menjelang tengah malam siaran televisi seolah gerbong kereta yang begitu panjang tanpa henti menawarkan hiburan dengan tayangan sinetronnya. Dan strategi pemasangan tayangan ini harus diakui memang begitu tepat menjadikan perempuan sebagai target utamanya. Kaum ibu, khususnya dari golongan kelas menengah ke bawah seolah menjadi jamaah yang tak perlu diatur barisannya untuk berada di depan televisi saat sinetron kesenangan mereka diputar. Sinetron menjadi sesuatu yang wajib disaksikan.

Tak hanya kaum ibu, coba tengok para lelaki dimanapun (terutama penggila sepakbola). Pada jam-jam tertentu saat tengah malam, biasanya mereka akan bangun untuk menyaksikan pertandingan yang dinantikan. Coba bandingkan jika pada waktu yang sama di hari berbeda tanpa siaran pertandingan olahraga apakah ia mampu bangun untuk ibadah menyembah pada Tuhan penciptanya? Pasti sulit dilakukan.

Lain orang tua, tak jauh berbeda dengan perilaku anak-anaknya. Televisi juga menjadi bagian hidup usia kanak-kanak. Sebagaimana para ibu dengan sinetron, para pria dengan tayangan olahraga, anak-anak memiliki jatah tayangan juga. Film-film cartoon maupun siaran lain yang disaksikan oleh anak-anak pada umumnya meski tak segencar sinetron seolah menjadi sesuatu yang wajib disaksikan sebagai bahan cerita di sekolah. Satu hal yang paling mengkhawatirkan dari sisi ini adalah sikap dan perilaku anak yang tidak memahami sepenuhnya bahwa segala yang mereka saksikan di televisi adalah tidak sepenuhnya benar karena berisi trik kamera dan rekayasa komputer. Telah terjadi kasus kemtian dan kecelakaan beberapa anak karena ketidakpahaman mereka akan tayangan televisi ditambah lagi sikap konsumtif akibat iklan produk komersil yang bertubi-tubi menghujani selingan tayangan yang ditonton.

Betapa hebat televisi kini telah merasuk ke kehidupan keluarga yang membuat kita lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

Rutinitas Pekerjaan

Di tempat kerja coba perhatikan, betapa banyak orang tanpa sadar melalaikan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang hamba. Mengabaikan kewajiban sholat hingga akhir waktu bahkan tak jarang juga jadi terlewat. Rutinitas pekerjaan tak ayal seolah menjadi Tuhan baru dimana seseorang tanpa sukses pekerjaan seolah eksistensi keberadaan dirinya terhapus. Manusia dalam golongan ini cenderung mengutamakan instruksi atasan daripada kewajiban utama seorang manusia terhadap Tuhannya. Dan jika dari segi sikap terlihat demikian, penampilanpun setali tiga uang. Jika ke kantor pakaian nampak necis dan perlente, berbeda saat melaksanakan ibadah terutama di rumah. Cukup pakaian biasa, yang penting bersih dan sederhana.

Ketiga hal yang saya utarakan tersebut bukanlah sebuah fenomena baru. Pergeseran nilai-nilai ini tanpa kita sadari terjadi secara perlahan. Jika saat saya menuliskan artikel ini baru tiga termuat, bisa saja dikemudian hari jumlahnya akan bertambah seiring pergeseran nilai-nilai dan budaya masyarakat. Miris… namun apa bisa dikata, begitulah gaya pendidikan kapitalisme budaya barat yang diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya tanpa mengerti dulu pengaruh besarnya kelak. Sebagaimana pepatah mengatakan “Hemat pangkal kaya” yang sering disalah artikan oleh banyak orang, telah kita saksikan kini (atau mungkin kita juga menjadi bagian di dalamnya) bahwa banyak orang yang merasa aman dan nyaman karena panjang deretan angka di buku tabungannya daripada banyak beramal dan berbuat baik pada orang lain. Kita lupa bahwa harta adalah amanah yang bukan milik abadi setiap insan. Cepat atau lambat, seperti air ia akan mengalir baik disalurkan oleh kita atau tidak.

Kita tahu dan mengerti bahwa setiap nafas kita digenggam olehNya, hidup dan mati kita ditanganNya, dan semoga saja kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang silau akan materi dunia yang membuat segala wujud kebendaan itu menjadi tembok pemisah antara kita dan Sang Pencipta.

Salam,

Hary Lasmana

One response so far

One Response to “Agama-agama Baru”

  1. IMAS NURHAYANI,SEon 12 Jul 2008 at 12:09 pm 1

    SALAM KENAL.
    Dengan FRONT KOMUNITAS INDONESIA SATU (FKI_1), Ormas Independe. Untuk lebih mengetahui kegiatan dan AD/ART FKI-1 dapat dilihat di Website:www.apindonesia.com. Sekretariat:Gd.Dewan Pers.:t.5.Jl.Kebon Sirih No:32-34 Jakarta Pusat. Tlp:0213503349, 3864167, 0818798586. Email:satufki@gmail.com.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

KLik Banner di Bawah Ini Untuk Penghasilan Tambahan