Apr 08 2008
[HBFCED in Action] 080408: Saving Time, Saving Air
Baru kemarin sore saya kembali menyadari kalau Jakarta penuh sesak kendaraan. Dari dalam bus yang saya tumpangi sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan kendaraan yang meraung-raung dan bergerak mirip kura-kura. Begitu pelan dan pasrah. Begitulah keadaan sore saat jam kantor usai.
Dalam suasana bising seperti itu di dalam hati saya timbul satu pertanyaan, “Dimana ya Bapak Gubernur yang terhormat yang pada masa kampanyenya mengaku AHLINYA JAKARTA? Apa tidak mampukah mengatasi kemacetan yang bukan lagi barang baru karena sudah menjadi rutinitas setiap hari ini… “. Nyaris kesal saya kalau tidak ingat pengalaman dengan masa lalu dan yang masih saja terjadi kini kalau kata-kata muluk seperti itu hanya slogan yang akhirnya akan hanyut oleh air hujan dan tenggelam bersama banjir yang berulangkali terjadi di kota metropolitan ini. Dan masyarakat Jakarta sendiri nampaknya tidak mau peduli dengan hal itu. Pun Pemerintah pusat yang berkantor menyebar di gedung-gedung megah kota ini, mereka nampaknya tidak ambil pusing karena toh dengan kawalan petugas khusus di jalan raya maka macet yang bagaimanapun bisa diterobos. Ya begitulah rona timpang kehidupan di atas jalan Jakarta antara masyarakat si pembayar pajak dengan mereka yang digaji dari alokasi dana pajak masyarakat.
Namun demikian, bagaimanapun saya sebagai salah seorang warga Jakarta yang meski tidak setiap hari berkutat di tengah kemacetan (thanks God jam kerja saya tidak seperti jam kerja kebanyakan orang-orang) tidak tepat rasanya menyalahkan keadaan tanpa memberi satu solusi, apalagi keadaan seperti ini adalah satu keadaan yang juga sebaiknya dipecahkan bersama. Dan untuk itu, menurut saya solusi yang dapat efektif mengatasi padatnya jumlah kendaraan di jalan setidaknya adalah mengurangi jumlahnya yaitu dengan cara membatasi kendaraan yang boleh berkendara menggunakan metode ekor plat serinya ganjil/genap pada hari-hari kerja. Dengan cara seperti ini maka otomatis kendaraan akan berkurang jumlahnya dan kemacetan tentu tak seperti separah sekarang ini.
Harapan saya bila cara tersebut dijalankan maka jalan raya Jakarta kelak tidak hanya berkurang kemacetannya namun juga polusi dari pembuangan mesin kendaraan akan menurun yang akhirnya juga akan mampu membantu pengurangan tumpukan gas rumah kaca ke udara sebagai penyebab pemanasan global. Jika hal ini terwujud, tentu saja jelas dampaknya akan menimbulkan banyak keuntungan bagi setiap warga yang bermukim di kota metropolitan ini selain juga akan dapat meningkatkan kredibilitas pemerintah itu sendiri.
Hanya saja kini pertanyaannya, “Maukah Pemerintah Jakarta mau mewujudkannya?”.
No responses yet










