Ada satu kebiasaan sopir bus yang saya tumpangi kala hujan adalah biasanya ia akan memerintahkan kernetnya untuk menyiram bagian luar kaca depan mobil dengan air sabun atau air mineral lalu dilap dan disiram berulang kali hingga bersih. Dengan melihatnya, atau membaca ilustrasi saya tadi tentunya kita tahu bukan maksud si sopir. Tujuannya tak lain adalah untuk membersihkan kaca bagian depan itu dari kotoran yang melekat yang terbawa oleh butiran air hujan yang jatuh. Agar pandangan mata si sopir saat berkendara dapat terjangkau lebih baik.
Pada tempat dan waktu yang berbeda, beda sopir bus beda lagi dengan mobil sedan milik seorang teman yang sesekali saya tumpangi saat hujan turun dalam perjalanan berkendara. Kecanggihan fasilitas mobil sedan itu tentu saja membuat teman yang mengendarai tak perlu bersusah payah meminta bantuan orang lain untuk membersihkan kaca bagian depan dari kotoran yang terbawa tetesan air hujan sebagaimana yang dilakukan si sopir bus. Cukup tekan satu tombol dari dashboard lalu wipper akan bergerak secara otomatis menyapu air dan debu yang melekat di kaca. Mudah dan praktis.
Kalau ingat dua hal berbeda pada kondisi bersamaan itu, entah kenapa pikiran saya jadi membandingkannya dengan keadaan diri sendiri. Sebagaimana seorang manusia yang serba terbatas, sebenarnya keadaan kitapun demikian adanya. Pandangan diri kita dibatasi oleh sebuah ruang penglihatan media kaca layaknya berada dalam kendaraan tertutup. Dan karena keterbatasan itu, maka pastinya secara otomatis kemampuan mata melihatpun menjadi terbatas pada kejernihan kaca tersebut. Jika kacanya bersih dan bening, pandanganpun akan jelas terlihat. Ketika kaca kotor, maka otomatis pandangan pun terganggu bahkan lebih parahnya bisa – bisa sesuatu yang kita lihat itu menjadi bias. Terasa bukan bedanya?
Hal sederhana ini sebenarnya kalau mau kita amati sering dialami oleh banyak orang. Entah dalam lingkungan pergaulan aktivitas, hubungan di lingkungan kerja, bahkan dalam lingkup kecil seperti keluargapun sama. Dalam memandang keadaan di luar diri kita akan selalu dibatasi suatu kaca ruang diri (baca:penyaring) berupa hati. Hati ini lah sesungguhnya pembatas, penyaring penilaian, baik secara langsung maupun tidak langsung yang menentukan cara pandang seseorang terhadap keadaan diluar diri kita.
Entah disadari atau tidak, kita seringkali dengan cepat menilai orang lain yang baru kita jumpai berdasarkan penampilannya, sikap, atau cara orang tersebut bertutur. Hanya karena kesamaan logat bicaranya, seseorang yang baru kita temui lantas kita curigai dan dianggap sama dengan pelaku kriminal yang kita lihat dalam berita televisi. Karena dandanan yang acak – acakan, maka lalu kita menganggap orang tersebut adalah seorang yang urakan. Atau karena sikap santai seseorang, kita mencap ia sebagai seorang pemalas. Padahal kalau dipikir secara perlahan dan matang, dugaan tak mendasar seperti itu seringkali meleset dan yang terjadi justru sebaliknya. Orang yang kita nilai buruk itu ternyata tidak seperti yang kita bayangkan bahkan tak jarang jauh lebih baik dari diri kita. Itulah akibat langsung dari kotornya ”kaca diri” (baca: hati) yang kita miliki dan dibiarkan kotor berwaktu – waktu lamanya hingga membuahkan hasil apapun yang terlihat dalam pandangan kita menjadi turut kotor.
”Kotornya kaca saja sudah merepotkan, apalagi kotornya hati!”, saya bergumam sendiri sambil membayangkan jJika kotornya kaca saja dapat menyebabkan terganggunya pandangan, kotornya hati pasti bisa berdampak sangat buruk. Timbulnya kesulitan pada diri sendiri sudah pasti timbulnya bencana suatu saat kelak pasti bisa. Dan mendapati keadaan seperti itu, pantaskah jika hal itu kita diamkan? Tidakkah sebaiknya kita membersihkan ”kaca” itu demi kelancaran perjalanan hidup kita?
Menyimak hikmah kejernihan kaca itu, dalam perjalanan lain diantara untaian kisah hidup ini, saya jadi teringat akan seorang teman yang pernah sharing keluhan; Setelah bertahun – tahun bekerja pada satu divisi tanpa peningkatan karir dan kesejahteraan, kawan yang sangat pintar ini mulai merasa bosan. Serasa tak ada semangat dan gairah kerja lagi dalam dirinya. Apalagi ditambah suasana kerja yang terasa makin panas oleh gaya berpolitik sesama karyawan yang saling menjatuhkan. Hingga akhirnya ia berniat mengubah keadaan dengan mengambil keputusan untuk pindah tempat kerja.
Dengan berbekal percaya diri akan kemampuan yang dimiliki, ia pun mulai mengirim lamaran. Dan orang dengan talenta yang hebat semodel kawan saya ini tentu saja lamarannya cepat membuahkan hasil. Setidaknya satu persatu yang saya ketahui panggilan wawancara dan psikotes berdatangan dan iapun mengikutinya dengan antusias. Hanya sayang anehnya, dari sekian banyak tes yang diikuti itu tak satupun memberi hasil sesuai keinginan. Tiada perusahaanpun yang dilamarnya mau menerima ia bekerja sebagai pegawai. Hingga secara perlahan teman ini merasa jenuh dan pupus harapan. ”Kerja baru tak dapat, kerja di tempat lama serasa hidup segan, mati tak mau!”, keluhnya menerima kenyataan.
Berusaha meredam semua itu, saya hanya dapat berusaha menenangkan dengan memberinya satu tips sederhana; Yaitu tentang dua hal utama terutama dalam panggilan wawancara dan psikotes –sebagaimana seorang psikolog pernah bercerita pada saya, bahwa untuk lulus tes tahap awal itu maka diperlukan strategi khusus terutama adalah sikap yang ceria disertai gairah akan perubahan positif dalam diri kita.
”Pada dasarnya psikotes adalah ujian murni tentang keadaan diri kita sebenarnya. Maka jika ingin lulus, rahasianya selalu berlaku; Bgaimanapun hebatnya kita mengetahui teknik lulus psikotes atau seberapa lancarnya berbicara dalam panggilan wawancara kerja, ada satuhal yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa sebenarnya tes itu merupakan masukan pada perusahaan untuk mengetahui sekilas tentang diri calon pegawai”. Maka karena itulah sebaiknya sebelum mengikuti wawancara dan psikotes alangkah baiknya mengubah keadaan diri dulu. Agar tidak nampak keburukan prilaku kita melalui psikotes.
Diberitahu hal itu teman inipun protes. Ia tidak tahu caranya. Namun, untungnya, secara perlahan ia mengikuti saran saya. Sebuah cara yang mudah – mudah sulit menuju ke sana. Mudah karena sangat sederhana, sulit jika belum terbiasa. Yaitu dengan mengubah sikap dan mental diri kita yang dimulai dari lingkungan kerja sehari hari. Memulai kebiasaan baik dengan bergembira setiap saat dan tak lupa bersyukur melalui sikap ikhlas pada setiap keadaan. Dan meski bingung mau harus mulai darimana, iapun mulai mencobanya.
Setiap kali mengirim lamaran pekerjaan, pada hari yang sama ia selalu mencoba tersenyum pada siapapun yang dikenalnya, membantu sesama rekan kerja tanpa diminta, dan menghindari keluh. Meski pada awal sulit, akunya, namun ia berhasil melalui hambatan itu dan bahkan jadi terbiasa dengannya. Tanpa disangka ternyata respon yang diterima dari lingkungan kerja pun seperti cermin positif. Sesama pegawai yang tadinya cuek, dengan perubahan sikap teman ini lama – lama terbiasa dan mengikutinya. Sesama rekan setiap hari semakin bertambah akrab dan erat. Jalinan komunikasi semakin kuat, dan kepercayaan satu sama lain membesar. Tanpa sadar sikap itu sikap dan kebiasaan semua karyawan di kantor.
Semua orang kini dengan mudah bertegur sapa, saling memperhatikan, dan selalu siap membantu pekerjaan orang lain. Diantara perubahan itu, tentu saja yang paling senang adalah teman yang saya. Setidaknya kini ia merasa nyaman dengan perubahan. Saking nyamannya, suatu kali ia mendapat tes panggilan kerja lain dan lulus, tawaran kerja di perusahaan baru itu ditolaknya dengan alasan subyektif.
”Sebenarnya sih saya kini sudah merasa sangat nyaman dengan keadaan tempat kerja sekarang. Semua orang sangat kooperatif dan mendukung di sini. Saya bisa bekerja dengan baik dan merasa nyaman tanpa kegelisahan seperti dulu. Dan sekarang saya takut karena membayangkan jika seandainya saya pindah ke tempat baru malah akan kehilangan rekan kerja dan suasana yang sangat kondusif seperti disini”, ucapnya sambil tersenyum.
Melihat kenyataan itu, saya jadi berpikir. Membandingkan keadaan awal dan akhir kisah teman yang satu ini. Kalau mau dihitung. betapa banyak ya kesalahpahaman terhadap penilaian berbeda diluar diri kita itu terjadi yang disebabkan karena kealpaan kita melepas kacamata yang kita kenakan? Apalagi celakanya, setelah menilai kotor keadaan diluar diri kita itu ternyata penyebabnya justru adalah karena kotornya lensa kaca mata yang kita kenakan. Kaca mata yang membuat pandangan kita pada apapun yang nampak akan menjadi tak sempurna.
Nah! dalam keadaan demikian, alih – alih mencari keindahan, tentu saja dimanapun kita berada selama menggunakan kaca mata yang sama sudah tentu hasilnya takkan jauh berbeda. Dan kalau seperti itu kejadiannya, tentunya sudah bisa diketahui bukan siapa yang salah?
Salam,
Hary Lasmana