Nov 10 2007

Profile Image of Hary Lasmana
Hary Lasmana

bersyukur [2]

Filed under WORLD IN MY EYES

Usai kepergian si mbok jamu, beberapa saat kemudian sayapun bersiap diri untuk pergi ke tempat kerja. Setelah mandi dan berseragam, seperti biasa, tak lupa menggendong tas di sebelah bahu saya lantas pamit pada mama dengan mencium tangan kanannya untuk meminta restu dan doa selamat. Pada langkah pertama saya keluar dari rumah, satu harapan muncul bersambung doa yang terucap dalam hati. Sebuah keinginan yang hanya saya dan Sang Maha Pencipta yang tahu. Selangkah demi selangkah kaki ini membawa saya menjauh dari rumah. Hari ini udara terasa lembab entah karena apa. Angin kering menyebarkan udara panas yang bersumber dari pancaran sinar matahari yang bersinar begitu terang sejak awal penampakkannya. Pijar pusat energi bumi itu nampak beberapa kali memantul di atas kaca jendela gedung di pinggir jalan yang saya lalui. Baik saat berjalan hingga naik ke dalam bus yang menjadi kendaraan setia pengantar tubuh ini tiba di tempat tujuan, cahaya matahari terasa begitu terangnya dengan rasa udara tak jauh berbeda. Perkiraan saya, baru separuh pagi waktu berjalan, namun rasa panasnya seperti beranjak ke tengah hari. ”Mungkin dampak pemanasan global”, ucap diri ini mencari alasan semua keadaan itu.  …baca selengkapnya »

No responses yet

Oct 29 2007

Profile Image of Hary Lasmana
Hary Lasmana

Bersyukur [1]

Filed under WORLD IN MY EYES

Pagi tadi si mbok jamu gendong langganan mama yang biasa berkeliling kampung datang ke rumah. Dengan “seragam” kebaya khas yang biasa dikenakannya sehari – hari ia datang bersilaturahmi ke para langganan sekaligus mengabarkan bahwa mulai hari ini jamu gendongnya beroperasi kembali. Si mbok kini sudah siap melayani kembali para pelanggan untuk menikmati khasiat olahan tanaman herbal hasil racikannya yang menurutnya tak kalah hebat dengan produk farmasi impor yang dibuat mesin canggih.  Oiya, cerita punya cerita, si mbok Jamu rupanya lebaran kali ini tidak pulang kampung. Keputusan itu diambil mendadak saat mengetahui kalau salah seorang kerabatnya di Jakarta tertimpa musibah kebakaran. Rumah kontrakan berikut seluruh isinya terbakar. Dan mengetahui hal itu, tentu saja membuat si mbok prihatin hingga mengurungkan niatnya tuk mudik berlebaran di kampung untuk membantu meringankan penderitaan saudaranya. Bahkan dengan besar hati, ongkos perjalanan yang belum dipergunakannya pulang ke kampung dialihkan untuk membantu meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah… Hebat bukan? …baca selengkapnya »

No responses yet

Oct 12 2007

Profile Image of Hary Lasmana
Hary Lasmana

Kerinduan

Filed under WORLD IN MY EYES

Menjelang senja di penghujung Ramadhan sayup terdengar gema takbir yang entah darimana. Langit cerah nampak bersahabat membuka kerinduan akan perginya bulan penuh rahmat dan ampunan ini. Seolah bercermin, saya tertegun melihat keburukan bayang diri yang terus bertambah mengiringi panjang usia yang ada. Ramadhan ini lagi-lagi saya kehilangan banyak moment untuk beribadah secara maksimal. Dan urusan dunia selalu menjadi penyebabnya.

Kalau boleh saya iri, saya ingin sekali berlaku seperti seorang mualaf yang rutin tarawih, mengikuti ceramah sehabis sholat subuh, dan tak malu bertanya pada ustad yang dijadikannya guru di masjid. Mualaf ini, bertingkah laku jauh lebih baik dari saya yang sejak lahir menjadi seorang muslim. Saya iri akan semangatnya menuntut ilmu dan upayanya mengamalkan pengetahuan yang dimilikinya.

Kalau diijinkan saya iri, saya ingin sekali seperti pak Haji tetangga saya yang setiap tahun selalu membagikan zakat hartanya pada fakir miskin sekitar tempat ia tinggal. Pak Haji yang dermawan ini pun menjadi orang tua asuh beberapa anak yatim dan menyantuni para janda juga manula. Sebagai kepala keluarga dapat dikatakan telah berhasil mendidik anak - anaknya hingga semua lulus sarjana bahkan sebagian berijazah universitas ternama di negeri tetangga. Kadang saya berharap seandainya saja kelak saya memiliki kesempatan yang sama dengannya.

Saya memang pengirian barangkali, bahkan pada seorang pemulung yang pekerjaannya mengumpulkan sisa gelas dan botol plastik yang pernah saya temui di pinggir jalan pun saya iri. Ketika bertemu dengannya, lelaki paruh baya ini bercerita tentang kisah perantauannya dari kampung halaman untuk menghidupi keluarganya. Dan pekerjaan menjadi pemulung adalah pilihan terakhir baginya ketimbang menjadi pengemis dan berpangku tangan sekedar mengharap uang dari pemberian orang lain. Nasib seperti ini diterimanya dengan senyum dan hati lapang. “Nggak mungkin mas saya kerja tinggi - tinggi, wong SD aja nggak lulus jadi ya cuma bisa kerja seperti ini. Yang penting usaha, apa aja yang penting halal dan nggak nyusahin orang lain. Wong dari sana sudah seperti ini… ya terima - terima aja. Yang penting bisa hidup, bisa makan. Pokoknya selama kita mau usaha Insya Allah pasti dapat. Rejeki sudah ada yang ngatur dari atas sana dan nggak bakal ketukar…”. Ucapnya dengan wajah datar namun penuh semangat yang membuat hati ini kecut tanpa diketahui siapapun.

Sore ini di penghujung Ramadhan saya merenungi semua itu. Berpikir dan bertanya, “Kapan giliran saya ya Rabb? Wahai Tuhan yang menciptakan seisi alam… Bagaimana caranya agar hambamu ini bisa memiliki semangat menuntut ilmu dan berupaya mengamalkannya sebagaimana muallaf yang saya temui di masjid? Kapan hamba bisa kesempatan memiliki harta untuk hamba salurkan melalui corong fakir miskin yang Engkau katakan suara mereka jelas terdengar di singgasanaMu? Mampukah hambamu ini bisa seikhlas pemulung yang menerima nasib namun tak mengeluh dengan keberadaan dirinya…?”. Tak tahan menahan berat beban semua keinginan itu, hampir saja puasa hari terakhir ini rusak karena semua kesedihan yang saya pertanyakan. “Astagfirullah…”, saya mengucap kalimat itu secara spontan seraya mengingat keberadaanNya.

Ramadhan hari ini adalah Ramadhan terakhir. 29 hari kemarin seharusnya menjadi ajang pembinaan dan penempaan diri untuk bersemangat dalam beribadah, sadar dan bersyukur akan semua karuniaNya, juga senantiasa ikhlas pada setiap keadaan. Saya jadi malu karena menjadi pengiri pada situasi dan kondisi yang tidak tepat, dan lebih malu setelah menyadari kesempatan baik itu akan segera pergi meninggalkan diri ini.

Gema takbir sayup - sayup terdengar saling bersahutan. Kerinduan akan datangnya kembali bulan penuh rahmat dan ampunan ini perlahan terobati dengan hadirnya cakrawala senja yang nampak redup dan hangat. Pada gema takbir yang terdengar saya membayangkan pagi esok yang penuh cinta. Dimana - mana seluruh warga berbaur bersama tanpa peduli usia. Anak - anak, remaja, maupun orang tua bercengkrama dalam semangat berbagi. Memberi dan meminta maaf, menyempurnakan diri dengan segala ketidak sempurnaannya. Besok, setiap pintu rumah di tempat saya berada akan terbuka lebar bagi siapapun yang ingin berkunjung, setiap senyum di dalamnya akan meluluhkan dendam dan amarah. Segala kebencian akan lenyap bersama aliran air mata yang mengalir.

Membayangkan semua itu, terasa pada wajah saya air mata ini mencuri start dari yang lain. Ia menetes perlahan menangisi Ramadhan yang baru saja beranjak pergi dan menyisakan kerinduan. Ramadhan baru saja pergi, belum juga lepas sehari… tapi rindu di hati ini, entah kenapa begitu berat hati melepasnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Taqabalallahu mina wa minkum

Minal Aidin wal Faidin

Mohon Maaf Lahir dan Batin

~Hary Lasmana

One response so far

Oct 06 2007

Profile Image of Hary Lasmana
Hary Lasmana

Bendera Kuning

Filed under WORLD IN MY EYES

Beberapa hari ini entah kenapa saya perhatikan di beberapa tempat di sepanjang perjalanan menuju kantor cukup banyak bendera kuning terikat di tiang listrik tepat di pangkal jalan masuk menuju area perumahan. Bendera tanda duka itu setidaknya berjumlah sekitar 3 – 5 di beberapa tempat terpisah. Jumlah yang cukup banyak menurut saya untuk ukuran sebuah wilayah yang jarak tempuhnya hanya beberapa menit dalam kondisi lancar sebagai pemberi tanda bahwa di daerah tersebut ada keluarga yang sedang berduka. …baca selengkapnya »

One response so far

Sep 29 2007

Profile Image of Hary Lasmana
Hary Lasmana

Kaca Mata

Filed under WORLD IN MY EYES

Ada satu kebiasaan sopir bus yang saya tumpangi kala hujan adalah biasanya ia akan memerintahkan kernetnya untuk menyiram bagian luar kaca depan mobil dengan air sabun atau air mineral lalu dilap dan disiram berulang kali hingga bersih. Dengan melihatnya, atau membaca ilustrasi saya tadi tentunya kita tahu bukan maksud si sopir. Tujuannya tak lain adalah untuk membersihkan kaca bagian depan itu dari kotoran yang melekat yang terbawa oleh butiran air hujan yang jatuh. Agar pandangan mata si sopir saat berkendara dapat terjangkau lebih baik. 

Pada tempat dan waktu yang berbeda, beda sopir bus beda lagi dengan mobil sedan milik seorang teman yang sesekali saya tumpangi saat hujan turun dalam perjalanan berkendara. Kecanggihan fasilitas mobil sedan itu tentu saja membuat teman yang mengendarai tak perlu bersusah payah meminta bantuan orang lain untuk membersihkan kaca bagian depan dari kotoran yang terbawa tetesan air hujan sebagaimana yang dilakukan si sopir bus. Cukup tekan satu tombol dari dashboard lalu wipper akan bergerak secara otomatis menyapu air dan debu yang melekat di kaca. Mudah dan praktis. 

Kalau ingat dua hal berbeda pada kondisi bersamaan itu, entah kenapa pikiran saya jadi membandingkannya dengan keadaan diri sendiri. Sebagaimana seorang manusia yang serba terbatas, sebenarnya keadaan kitapun demikian adanya. Pandangan diri kita dibatasi oleh sebuah ruang penglihatan media kaca layaknya berada dalam kendaraan tertutup. Dan karena keterbatasan itu, maka pastinya secara otomatis kemampuan mata melihatpun menjadi terbatas pada kejernihan kaca tersebut. Jika kacanya bersih dan bening, pandanganpun akan jelas terlihat. Ketika kaca kotor, maka otomatis pandangan pun terganggu bahkan lebih parahnya bisa – bisa sesuatu yang kita lihat itu menjadi bias. Terasa bukan bedanya? 

Hal sederhana ini sebenarnya kalau mau kita amati sering dialami oleh banyak orang. Entah dalam lingkungan pergaulan aktivitas, hubungan di lingkungan kerja, bahkan dalam lingkup kecil seperti keluargapun sama. Dalam memandang keadaan di luar diri kita akan selalu dibatasi suatu kaca ruang diri (baca:penyaring) berupa hati. Hati ini lah sesungguhnya pembatas, penyaring penilaian, baik secara langsung maupun tidak langsung yang menentukan cara pandang seseorang terhadap keadaan diluar diri kita. 

Entah disadari atau tidak, kita seringkali dengan cepat menilai orang lain yang baru kita jumpai berdasarkan penampilannya, sikap, atau cara orang tersebut bertutur. Hanya karena kesamaan logat bicaranya, seseorang yang baru kita temui lantas kita curigai dan dianggap sama dengan pelaku kriminal yang kita lihat dalam berita televisi. Karena dandanan yang acak – acakan, maka lalu kita menganggap orang tersebut adalah seorang yang urakan. Atau karena sikap santai seseorang, kita mencap ia sebagai seorang pemalas. Padahal kalau dipikir secara perlahan dan matang, dugaan tak mendasar seperti itu seringkali meleset dan yang terjadi justru sebaliknya. Orang yang kita nilai buruk itu ternyata tidak seperti yang kita bayangkan bahkan tak jarang jauh lebih baik dari diri kita. Itulah akibat langsung dari kotornya ”kaca diri” (baca: hati) yang kita miliki dan dibiarkan kotor berwaktu – waktu lamanya hingga membuahkan hasil apapun yang terlihat dalam pandangan kita menjadi turut kotor. 

”Kotornya kaca saja sudah merepotkan, apalagi kotornya hati!”, saya bergumam sendiri sambil membayangkan jJika kotornya kaca saja dapat menyebabkan terganggunya pandangan, kotornya hati pasti bisa berdampak sangat buruk. Timbulnya kesulitan pada diri sendiri sudah pasti timbulnya bencana suatu saat kelak pasti bisa. Dan mendapati keadaan seperti itu, pantaskah jika hal itu kita diamkan? Tidakkah sebaiknya kita membersihkan ”kaca” itu demi kelancaran perjalanan hidup kita? 

Menyimak hikmah kejernihan kaca itu, dalam perjalanan lain diantara untaian kisah hidup ini, saya jadi teringat akan seorang teman yang pernah sharing keluhan; Setelah bertahun – tahun bekerja pada satu divisi tanpa peningkatan karir dan kesejahteraan, kawan yang sangat pintar ini mulai merasa bosan. Serasa tak ada semangat dan gairah kerja lagi dalam dirinya. Apalagi ditambah suasana kerja yang terasa makin panas oleh gaya berpolitik sesama karyawan yang saling menjatuhkan. Hingga akhirnya ia berniat mengubah keadaan dengan mengambil keputusan untuk pindah tempat kerja.  

Dengan berbekal percaya diri akan kemampuan yang dimiliki, ia pun mulai mengirim lamaran. Dan orang dengan talenta yang hebat semodel kawan saya ini tentu saja lamarannya cepat membuahkan hasil. Setidaknya satu persatu yang saya ketahui panggilan wawancara dan psikotes berdatangan dan iapun mengikutinya dengan antusias. Hanya sayang anehnya, dari sekian banyak tes yang diikuti itu tak satupun memberi hasil sesuai keinginan. Tiada perusahaanpun yang dilamarnya mau menerima ia bekerja sebagai pegawai. Hingga secara perlahan teman ini merasa jenuh dan pupus harapan. ”Kerja baru tak dapat, kerja di tempat lama serasa hidup segan, mati tak mau!”, keluhnya menerima kenyataan. 

Berusaha meredam semua itu, saya hanya dapat berusaha menenangkan dengan memberinya satu tips sederhana; Yaitu tentang dua hal utama terutama dalam panggilan wawancara dan psikotes –sebagaimana seorang psikolog pernah bercerita pada saya, bahwa untuk lulus tes tahap awal itu maka diperlukan strategi khusus terutama adalah sikap yang ceria disertai gairah akan perubahan positif dalam diri kita.  

”Pada dasarnya psikotes adalah ujian murni tentang keadaan diri kita sebenarnya. Maka jika ingin lulus, rahasianya selalu berlaku; Bgaimanapun hebatnya kita mengetahui teknik lulus psikotes atau seberapa lancarnya berbicara dalam panggilan wawancara kerja, ada satuhal yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa sebenarnya tes itu merupakan masukan pada perusahaan untuk mengetahui sekilas tentang diri calon pegawai”. Maka karena itulah sebaiknya sebelum mengikuti wawancara dan psikotes alangkah baiknya mengubah keadaan diri dulu. Agar tidak nampak keburukan prilaku kita melalui psikotes. 

Diberitahu hal itu teman inipun protes. Ia tidak tahu caranya. Namun, untungnya, secara perlahan ia mengikuti saran saya. Sebuah cara yang mudah – mudah sulit menuju ke sana. Mudah karena sangat sederhana, sulit jika belum terbiasa. Yaitu dengan mengubah sikap dan mental diri kita yang dimulai dari lingkungan kerja sehari hari. Memulai kebiasaan baik dengan bergembira setiap saat dan tak lupa bersyukur melalui sikap ikhlas pada setiap keadaan. Dan meski bingung mau harus mulai darimana, iapun mulai mencobanya. 

Setiap kali mengirim lamaran pekerjaan, pada hari yang sama ia selalu mencoba tersenyum pada siapapun yang dikenalnya, membantu sesama rekan kerja tanpa diminta, dan menghindari keluh. Meski pada awal sulit, akunya, namun ia berhasil melalui hambatan itu dan bahkan jadi terbiasa dengannya. Tanpa disangka ternyata respon yang diterima dari lingkungan kerja pun seperti cermin positif. Sesama pegawai yang tadinya cuek, dengan perubahan sikap teman ini lama – lama terbiasa dan mengikutinya. Sesama rekan setiap hari semakin bertambah akrab dan erat. Jalinan komunikasi semakin kuat, dan kepercayaan satu sama lain membesar. Tanpa sadar sikap itu sikap dan kebiasaan semua karyawan di kantor.  

Semua orang kini dengan mudah bertegur sapa, saling memperhatikan, dan selalu siap membantu pekerjaan orang lain. Diantara perubahan itu, tentu saja yang paling senang adalah teman yang saya. Setidaknya kini ia merasa nyaman dengan perubahan. Saking nyamannya, suatu kali ia mendapat tes panggilan kerja lain dan lulus,  tawaran kerja di perusahaan baru itu ditolaknya dengan alasan subyektif. 

”Sebenarnya sih saya kini sudah merasa sangat nyaman dengan keadaan tempat kerja sekarang. Semua orang sangat kooperatif dan mendukung di sini. Saya bisa bekerja dengan baik dan merasa nyaman tanpa kegelisahan seperti dulu. Dan sekarang saya takut karena membayangkan jika seandainya saya pindah ke tempat baru malah akan kehilangan rekan kerja dan suasana yang sangat kondusif seperti disini”, ucapnya sambil tersenyum. 

Melihat kenyataan itu, saya jadi berpikir. Membandingkan keadaan awal dan akhir kisah teman yang satu ini. Kalau mau dihitung. betapa banyak ya kesalahpahaman terhadap penilaian berbeda diluar diri kita itu terjadi yang disebabkan karena kealpaan kita melepas kacamata yang kita kenakan? Apalagi celakanya, setelah menilai kotor keadaan diluar diri kita itu ternyata penyebabnya justru adalah karena kotornya lensa kaca mata yang kita kenakan. Kaca mata yang membuat pandangan kita pada apapun yang nampak akan menjadi tak sempurna.  

Nah! dalam keadaan demikian, alih – alih mencari keindahan, tentu saja dimanapun kita berada selama menggunakan kaca mata yang sama sudah tentu hasilnya takkan jauh berbeda. Dan kalau seperti itu kejadiannya, tentunya sudah bisa diketahui bukan siapa yang salah?  

 

Salam, 

Hary Lasmana

3 responses so far

Sep 22 2007

Profile Image of Hary Lasmana
Hary Lasmana

Pintu Komunikasi

Filed under WORLD IN MY EYES

Para ahli agama mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Di bulan ini segala kebaikan dibalas berkali lipat, pintu – pintu rahmat terbuka, dan adanya satu malam menakjubkan yaitu malam Lailatul Qadr, dimana didalamnya terdapat keberkahan yang melebihi berkah 1000 bulan. Itulah sebabnya mengapa di bulan ini begitu banyak muslimin berusaha meningkatkan ketakwaan dalam beramal saleh dengan berjuang menegakkan perintahNya. Semata untuk meraih tempat tertinggi dalam derajat kemuliaan seorang hamba pada Tuhannya.

Di masjid, musholla, di rumah, serta beberapa tempat umum, suasana khas Ramadhan sangat terasa. Banyak orang memadati tempat ibadah untuk mendekatkan diri padaNya dengan segala cara. Ada yang mengaji, memperbanyak shalat sunah, bersedekah, bahkan tak sedikit juga yang hanya sekedar beristirahat untuk melepas penat dan menjauhkan diri dari godaan yang bertaburan di jalanan. Menjaga dari hal – hal yang merusak ibadah.

Namun bagi saya dan beberapa teman, Ramadhan kali ini jauh berbeda dengan Ramadhan yang dijalani oleh kebanyakan orang. Secara umum, biasanya di saat berpuasa, banyak orang menghabiskan waktunya dengan tidur siang atau lebih pasif beraktivitas, namun saya dan beberapa teman –untungnya –memiliki kegiatan wajib. Di siang yang terik di akhir pekan, seperti biasa, puasa atau tidak puasa, kami berada di dalam kelas. Duduk manis sebagai murid yang baik, mendengarkan dan menyimak dosen yang tengah mengajar hingga usai.

Sebagaimana hari – hari sebelumnya, siang ini saya berada di dalam kelas. mata kuliah hari ini adalah Jaringan Komputer. Dari nama mata kuliahnyapun tentu sudah dapat dibayangkan bukan apa yang tengah saya pelajari, tak jauh dari seluk beluk koneksi jaringan alat digital super berguna di abad ini. Untunglah meski puasa, udara panas, dan kantuk yang sesekali datang, tak menghambat penyerapan materi yang diajarkan. Bahkan sebaliknya, dari paparan dosen di depan kelas tiba – tiba benak ini menerawang keluar jalur. Batin diri mempertanyakan hakikat kekurangan anak manusia dalam kehidupan yang dijalani sebagaimana konsep sebuah jaringan dalam dunia digital…

Dalam hidup, sebagaimana konsep sebuah jaringan komputer yang diterangkan dosen di depan kelas, kita akan selalu mengalami hambatan di dalamnya. Entah karena perangkat komputer kita yang berkualitas rendah, konektivitas jaringan yang sibuk, penerimaan yang kurang baik akibat teknologi server yang tidak memadai dan beberapa faktor lain seperti keabsahan sebuah gate (baca:pintu) yang juga sangat menentukan dalam pertukaran data. Secara sederhana, kita dapat membayangkan sebuah jaringan komputer seperti jalan bebas hambatan (baca: jalan tol).

Pada jalan tol, kelancaran jalan tol sangat ditentukan oleh pengguna dan fasilitasnya. Ramai atau tidaknya kendaraan yang lalu lalang, keadaan jalan, hingga faktor yang tak kalah pentingnya adalah banyaknya kesiapan pintu masuk dan keluar yang terbuka dalam memperlancar antrian kendaraan. Bisa kita bayangkan bukan, berapapun lebar dan pendeknya jalan namun jika tidak diseimbangkan dengan pintu masuk dan keluar yang tersedia tentu akan mengakibatkan antrian panjang. Dari sepuluh pintu keluar - masuk, jika hanya sebuah pintu saja yang terbuka maka dapat dipastikan antrian kendaraan akan menumpuk yang akan mengakibatkan kemacetan. Bayangkan jika ternyata hal itu yang terjadi pada diri kita dan hubungan dengan Sang Pencipta. Dari sepuluh pintu doa yang ada untuk kita berkomunikasi denganNya, ternyata hanya tersisa satu pintu saja dan itupun kini terbuka separuh…

Berkaca pada diri sendiri, betapa sering kita temui dalam kehidupan yang kita jalani diisi dengan berbagai keluhan. Ketika berusaha namun lebih banyak gagal dibanding berhasilnya, niat baik yang tak kesampaian, cita-cita kandas di tengah jalan, dan banyak lagi keadaan lainnya yang tak jarang membuat kita putus asa. Pun setelah semua usaha, doa yang kita panjat keharibaannyapun seolah tak didengar, tak ada yang dikabulkan. Mendapati keadaan demikian, pernahkah kita berinstropeksi, apa sebenarnya penyebab semua kegagalan itu?apa penyebab tidak tercapainya keinginan baik dan terhalangnya doa-doa… mungkinkah segala hambatan itu disebabkan karena tertutupnya pintu – pintu komunikasi kita denganNya, Sang Pemilik alam semesta?

Seringkali tanpa sadar dalam bertingkah laku menjalani hidup, kita melakukan banyak kesalahan. Entah besar ataupun kecil, setiap kesalahan -sebagaimana kebaikan, berakibat pada kehidupan yang kita jalani. Jika kebaikan berbuah ketenangan batin, kesalahanpun pada sisi lain berakibat pada tertutupnya pintu – pintu masuk doa kita kepadaNya. Setiap kesalahan yang terjadi mengakibatkan terdorongnya sisi pintu komunikasi kita dengaNya yang tadinya terbuka lebar menyempit ke sisi satunya bahkan tertutup. Apapun model kelakuan buruk itu. Entah tingkah kita yang kerap menyakiti perasaan orang lain, segelintir kesalahan yang kita anggap angin lalu, menolak menjalankan kewajiban, juga banyak perbuatan buruk lain, baik secara sadar ataupun tidak telah mendorong pintu komunikasi kita denganNya. Pintu yang tadinya terbuka lebar itu perlahan menutup dan menghalangi apapun permintaan kita kepadaNya. Lalu jika pintu – pintu komunikasi telah tertutup, bagaimana mungkin permintaan kita terpenuhi? suara kita pun rasanya akan sulit didengarpun olehNya… apalagi doa rasanya akan amat sulit dikabulkan.

Menyadari semua itu, maka alangkah baiknya kapanpun saat kita mengalami kegagalan berulang kali, selalu menemui hambatan besar dalam usaha, permintaan (doa) yang tak kunjung dikabulkan, janganlah menyerah apalagi pasrah. Introspeksi dirilah segera. Berkacalah pada kehidupan, lihat diri sendiri. Mungkin ada kesalahan dalam diri kita yang tidak kta sadari yang mengakibatkan pintu komunikasi kita denganNya telah tertutup. Jika benar, akuilah dan buka kembali pintu itu dengan bertobat, istigfarlah mengingat kuasaNya. Semoga keadaan yang demikian mampu melancarkan kembali komunikasi kita denganNya.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Salam,
Hary Lasmana

One response so far

« Lihat Posting Berikutnya [Next]

KLik Banner di Bawah Ini Untuk Penghasilan Tambahan